"Maunya Perompak, Uang Diantar Pakai Kapsul


Perompak Somalia

VIVAnews -- Kesepakatan sudah dihasilkan antara pihak pemilik Kapal MV Sinar Kudus, PT Samudera Indonesia dengan para perompak Somalia.

"Setahu saya sudah ada deal sekitar US$3,05 juta," kata putri nahkoda Sinar Kudus, Rezky Judiana, kepada VIVAnews, 18 April 2011.

Keluarga berharap para awak kapal bisa segera dibebaskan. Sebab, setelah beredar kabar dua kapal Angkatan Laut berisi 40 personel militer  sudah merapat, para bajak laut makin garang. Para sandera diikat  dan ditempatkan di dek kapal. Komunikasi dengan keluarga di  Indonesia pun dibatasi.

Kepada VIVAnews.com, Aep Saepudin, warga negara Indonesia yang pernah menjadi sandera di kapal pancing berbendera Taiwan, Win Far 161 menceritakan, kondisi psikologis para perompak memang seperti itu. "Kalau tahu ada intervensi militer dari pihak kita," kata Aep saat dihubungi Senin 18 April 2011 malam.

Diceritakan pria asal Bandung itu, kala itu, ada kapal Amerika Serikat yang mendekat dalam jarak 1 mil, mereka ingin memotret kondisi kapal Win Far. "Saat itu, perompak langsung siaga penuh, semua kru dibawa ke atas kapal. Kondisinya hampir sama, diikat. Bedanya yang diikat hanya kapten kapal dan chief officer, ABK yang dianggap tidak berbahaya, tidak diikat," tambah Aep.

Dalam kondisi seperti ini, opsi pembebasan melalui cara militer sangat berisiko tinggi. Apalagi, posisi Sinar Kudus tak lagi ada di laut lepas, melainkan sudah buang jangkar, di pinggir pantai.

Jika menempuh opsi penebusan, para lanun punya cara sendiri. uang tebusan tidak diantar kapal. "Harus cash, dan dibawa pakai kapsul," kata Aep.

Diceritakan dia, kapsul tersebut diterbangkan pesawat dan diterjunkan di atas kapal yang dibajak. "Yang mengambil adalah para sandera, kami juga yang menghitung jumlah uang itu," kata Aep.

Saat itu, tambah Aep, uang dalam kapsul dibawa dengan pesawat Cessna yang disewa Taiwan dari Kenya. Jumlahnya US$ 700 ribu, jauh lebih rendah dari tuntutan awal yakni US$9 juta.

Jika jumlahnya pas sesuai dengan keinginan, kapal dan para sandera segera dibebaskan. "Seperti itulah caranya, waktu itu dari Rusia menawarkan opsi berbeda, kapsul dibawa helikopter lalu diapungkan di titik tertentu, ditolak."

Untuk diketahui, Aep dan para awak Win Far 161 disandera selama 10 bulan. Mereka baru dibebaskan pada 22 Februari 2010. Jika dibandingkan dengan para awak Sinar Kudus yang baru 1 bulan disandera, memang jauh lebih lama.

Namun, Aep mengatakan, bukan soal waktu, nyawa jadi taruhan. Apalagi, salah satu ABK dikabarkan dalam kondisi sakit keras. "Yang saya tahu, rata-rata ABK Sinar Kudus berusia lebih dari 25 tahun. Lebih rentan," kata Aep.

"Saran saya pada PT Samudera Indonesia, bebaskan saja selagi masih (selamat), nanti 3 bulan ke depan awak kapal sudah tak bakal kuat lagi. Memang, hilang uang tebusan sekitar Rp30 miliar, tapi bandingkan dengan harga kapal yang sampai Rp1,6 triliun, dan risiko nyawa." (eh)
• VIVAnews

0 komentar: