al-qaida terancam pecah


WASHINGTON - Perpecahan internal mengancam Al Qaeda. Itu terkait terpilihnya Saif al-Adel sebagai pemimpin karteker organisasi radikal yang berdiri 22 tahun silam tersebut sepeninggal Osama bin Laden yang tewas di tangan pasukan khusus Amerika Serikat pada 1 Mei silam.

Terpilihnya mantan perwira pasukan khusus Mesir itu memicu friksi. Sebab, sebelumnya yang santer disebut bakal menggantikan Osama adalah orang nomor dua di Al Qaeda Ayman al-Zawahiri. Dalam struktur baru itu, jabatan Zawahiri malah "diturunkan" hanya sebagai semacam direktur hubungan internasional. 

Padahal, dukungan kepada Zawahiri yang dikenal sebagai orang terdekat Osama dan juga tokoh paling senior di Al Qaeda itu sudah sangat luas. Pekan lalu, misalnya, para pemimpin Al Qaeda di Iraq dan Yaman secara terbuka menyatakan berada di belakang pria Mesir berusia 59 tahun itu. Diperkirakan, para pendukung Zawahiri itu bakal sulit menerima kepemimpinan Adel meski hanya interim alias sementara.

Kabar terpilihnya Adel itu dilansir CNN berdasar keterangan Noman Benotman, mantan jihadis yang pernah memimpin Pejuang Islam Libya, kelompok di Libya yang berafiliasi dengan Al Qaeda, dan kini bermukim di London, Inggris. Benotman mendapatkan informasi tersebut berdasar kontaknya dengan para jihadis melalui forum internet.

Harian The News, Pakistan, sebagaimana dikutip AFP kemarin (18/5), membenarkan bahwa kabar tersebut berdasar sumber di Al Qaeda yang tidak disebutkan namanya. Tidak disebutkan siapa persisnya yang memilih pria yang oleh AS dimasukkan daftar teroris paling dicari dan informasi tentangnya dihargai USD 5 juta (sekitar Rp 42,5 miliar) tersebut. Pemilihan itu dikatakan hanya dihelat di sebuah tempat yang dirahasiakan.  

"Penunjukan Saif al-Adel hanya sebagai pemimpin karteker ini mungkin sebuah pancingan dari Al Qaeda untuk mengetahui bagaimana reaksi para anggota dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengannya jika dipimpin seseorang dari luar Jazirah Arab," kata Benotman kepada CNN kemarin (18/5).

Reaksi keras itu tampaknya segera bermunculan. Pekan lalu Abu Bakr al-Baghdadi yang baru saja dilantik Zawahiri sebagai ketua Negara Islam Iraq (ISI), kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda, secara tegas menyebut Zawahiri sebagai pemimpin baru Al Qaeda  

"Kepada seluruh saudara saya di Al Qaeda yang dipimpin Ayman al-Zawahiri, teruslah berjuang dengan restu Tuhan dan berbahagialah Anda semua memiliki saudara seiman di Negara Islam Iraq," kata Baghdadi sebagaimana dikutip The Guardian. 

Pernyataan senada juga disampaikan tokoh senior Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) yang berbasis di Yaman, Rashad Mohammed Saeed Ismail. "Ayman al-Zawahiri adalah kandidat terbaik (untuk memimpin Al Qaeda). Semua sayap Al Qaeda akan mendukung dia dan semua gerakan jihad sepenuhnya memercayai dia," ujar Ismail.

Evan Kohlmann, seorang peneliti yang mengkhususkan diri pada forum-forum kelompok jihad di internet, juga membenarkan bahwa Zawahiri sudah diakui sebagai pemimpin Al Qaeda. "Sejumlah jihadis sudah menyebut Al Qaeda sebagai "jund al-Ayaman" yang artinya tentara Ayman", katanya sebagaimana dikutip The Guardian.

Hingga tadi malam, belum ada respons dari Saif al-Adel alias Muhammad Ibrahim Makkawi terkait terpilihnya dia sebagai pemimpin Al Qaeda. Begitu juga halnya soal kemungkinan resistensi yang bakal dihadapinya.

Seperti halnya Zawahiri, Adel yang diperkirakan berusia menjelang setengah abad itu juga dekat dengan Osama karena pernah sama-sama berjuang melawan pendudukan Uni Soviet di Afghanistan. Dia keluar dari Afghanistan setelah Taliban jatuh pada 2001 dan ditangkap di Iran. Tetapi, sejak setahun terakhir, pria yang dikenal sebagai pakar strategi militer tersebut diyakini sudah kembali ke Pakistan. 

Terpilihnya Adel itu juga tidak terlepas dari keengganan anak-anak Osama mengambil alih kepempinan. Salah seorang yang paling dijagokan, Khaled, juga tewas bersama sang bapak ketika disergap pasukan Navy Seals di Abbottabad, Pakistan, pada 1 Mei lalu.

Sementara itu, Tehreek-e-Taliban Pakistan alias Taliban Pakistan yang memang telah berjanji membalas kematian Osama terus berulah. Setelah mengirim dua pengebom bunuh diri di dekat kamp paramiliter Pakistan di Charsaddar pekan lalu dan mengakibatkan 89 orang tewas pekan lalu, kelompok radikal itu kemarin dini hari menyerang pos polisi di Sarband, dekat Khyber, barat laut Pakistan, berbatasan dengan Afghanistan.

Kelompok bersenjata senapan, granat, dan peluncur roket menyerang pos polisi yang dijaga delapan petugas tersebut sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Sekitar 15 menit berselang, terjadi serangan lagi yang dilakukan sekitar 70 militan. Akibat serangan-serangan itu, dua polisi tewas dan lima lainnya luka.

"Kami tidak tahu jumlah korban di kubu militan karena mereka menyerang dan menarik diri cepat sekali. Mereka datang dari arah Khyber dan kembali ke arah yang sama," kata seorang perwira senior polisi Mohammad Ijaz Khan kepada AFP. (c4/ttg)
sumber:http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=92418

0 komentar: